Satu kata yang mungkin paling sering kita dengar
pada waktu kita berkomunikasi dengan saudara seiman kita, adalah kata
SHALOM.
Pada waktu kita menyapa saudara seiman, atau
ketika kita memulai percakapan di telepon, kita menyebut, SHALOM! Kalau
dulu, waktu kita mengangkat telepon, kita menyebut HALO, sekarang banyak
orang Kristen sudah menggantinya menjadi SHALOM. Anak laki-laki saya
umur tiga tahun, namanya Alluf, dia belum mengerti kata ini. Waktu dia
terima telepon, ada suara di ujung sana berkata, SHALOM. Dia langsung
menjawab, BUKAN, INI ALLUF!
Saudaraku, akan sangat menyedihkan kalau kita
mengganti kata HALO tadi dengan SHALOM tanpa diikuti oleh pemahaman yang
benar akan kata SHALOM itu sendiri. SHALOM tidak sama dengan HALO. Kata
HALO semata-mata kata sapaan, asalnya dari bahasa perancis kuno, HOLLA,
artinya BERHENTI! Sedangkan kata SHALOM bukanlah kata sapaan seperti
HALO. SHALOM sesungguhnya adalah kata yang memiliki makna yang luar
biasa dalamnya. Pada waktu mendengar kata ini, munkin sebagian dari kita
orang Indonesia langsung mengartikannya dengan "damai sejahtera", dan
mulai membayangkan suatu keadaan yang damai, aman dan makmur sejahtera,
yang tidak kunjung datang ke negeri ini.
Di dalam Alkitab, kata SHALOM memang seringkali
diterjemahkan dengan "damai sejahtera". Namun kata ini memiliki makna
yang sangat luas. Tidak sekedar 'damai' (peace) atau hubungan yang
harmonis antara kita dengan orang lain, tetapi juga 'keutuhan',
'kesejahteraan', 'kesehatan', 'kesembuhan', bahkan 'pembebasan',
'keselamatan'. Karena itu kata SHALOM ini dalam bahasa Yunani
diterjemahkan dengan beberapa istilah, yaitu eirene (kedamaian, kesejahteraan, kesehatan), hugianinein (keadaan baik, sehat) dan soteria
(pembebasan, keselamatan, kesembuhan). Anda sudah menangkapnya
sekarang? SHALOM yang dimaksud Alkitab ternyata mencakup semuanya itu.
Jadi sebenarnya penerjemahan SHALOM ke dalam bahasa Indonesia menjadi
dua kata 'damai sejahtera', itupun masih tidak cukup mewakili arti yang
sesungguhnya dari SHALOM itu. Untuk memahami kata SHALOM ini secara
utuh, saya mengajak anda untuk merenungkan beberapa poin yang penting
untuk kita mengerti.
Yang pertama adalah
bahwa SHALOM atau damai sejahtera adalah inisiatif Allah dan keluar dari
ALLAH, bukanlah inisiatif manusia. Manusia di dalam dirinya dan dari
dirinya sendiri tidak dapat memberikan SHALOM sebagaimana yang
dimaksudkan Alkitab. SHALOM adalah suatu kondisi surgawi, yang hanya
dapat diturunkan oleh Dia yang berasal dari surga. Tuhan Yesus di dalam
hidup-Nya di bumi selalu memberi salam kepada orang-orang dengan cara
demikian, "SHALOM bagi kamu," dengan penuh
kesadaran bahwa damai sejahtera itu berasal dari diri-Nya sendiri.
Paulus kerapkali menyebutkan 'Allah (sumber) SHALOM' di dalam
surat-suratnya. Juga kata-kata berkat seringkali ia ucapkan seperti
ini: "Kasih karunia dan SHALOM dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu" (Filemon 1:3). Kesaksian Yohanes di dalam Wahyu dibuka dengan doa: "Kasih karunia dan SHALOM menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang ... " (Wahyu 1:4). Juga di dalam suratnya Yohanes juga mengatakan: "Kasih
karunia, rahmat dan SHALOM dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus,
Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih" (2 Yoh 1:3).
Yang kedua adalah
bahwa SHALOM selalu berfokus pada Kristus. Dalam membicarakan SHALOM,
Alkitab selalu mengarahkannya pada satu titik pusat, yaitu Kristus.
Sesungguhnya Kristus adalah pusat manifestasi SHALOM di atas bumi. Di
dalam Kristus kita melihat wujud SHALOM secar sempurna, tidak parsial.
Suatu kali Yesus mengingatkan murid-murid-Nya: "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang"
(Matius 10:34). Itu karena damai yang dimaksudkan Yesus adalah damai
atau damai sejahtera yang berfokus pada diri-Nya, hubungan dengan-Nya,
bukan sekedar keadaan adem, rukun, tenteram dan aman, atau suatu
kesatuan dan persatuan, atau suatu masyaratkat yang tercukupi sandang,
pangan dan papan. LSM-LSM meneriakkan hal-hal tersebut, juga Greenpeace,
bahkan PBB. Namun Yesus bukan LSM. Damai sejahtera yang ditawarkan-Nya
bukan seperti damai sejahtera yang ditawarkan dunia, melainkan damai
sejahtera yang berpusat pada diri-Nya sendiri. Dialah RAJA SHALOM
seperti yang dinubuatkan Yesaya: "Sebab seorang anak
telah lahir untuk kita; seorang putra telah diberikan untuk kita;
lambang pemerintahan ada di atas bahuNya, dan namanya disebutkan orang:
Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, RAJA SHALOM"
(Yesaya 9:5). Kristuslah sesungguhnya SHALOM kita, karena Dia telah
merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan kita dengan Allah, sehingga
kita yang dahulu jauh kini menjadi dekat karena darah-Nya (Efesus
2:13-14).
Poin ketiga, SHALOM
berbicara tentang kondisi hati, bukan materi. Ukuran SHALOM tidak
mengikuti ukuran dari dunia ini, hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus
sendiri: "Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai
sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti
apa yang diberikan oleh dunia kepadamu ..." (Yohanes 14:27).
Karena itu, SHALOM yang kita miliki sama sekali tidak tergantung pada
keadaan fisik kita, harta benda kita, lingkungan kita, atau dunia tempat
kita berpijak. SHALOM atau damai sejahtera yang dari Tuhan, tetap dapat
kita tunjukkan bahkan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun. Firman
Tuhan di Yohanes 16:33 berkata: "Semuanya itu
Kuberikan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam
dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah
mengalahkan dunia." Sebagai umat Tuhan, damai sejahtera Allah menjadi kekuatan kita dalam menjalankan mandat dari Allah di bumi: "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus Kristus"
(Filipi 4:7). Bukanlah kondisi dunia yang menguasai kita, atau
memerintah atas kita, melainkan SHALOM-Nya, damai sejahtera-Nya: "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu" (Kolose 3:15). Sesungguhnya damai sejahtera Allah itu sedang dan akan terus memerintah atas kita umat-Nya, dalam segala hal: "Dan
Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya
terus menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu
sekalian" (2 Tesalonika 3:16).
Keempat, SHALOM
selalu dikaitkan dengan bakti kita kepada Allah. Damai sejahtera
diberikan-Nya kepada kita semata-mata untuk mendekatkan kita kepada-Nya,
karena damai sejahtera itu dipakai-Nya sebagai alat pengudusan kita. "Semoga
Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa
dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan
Yesus Kristus, Tuhan kita" (1 Tesalonika 5:23). Karena itu, damai
sejahtera itu khusus diberikan bagi mereka yang berada di dalam
Kristus. "Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam
Kristus. Amin" (1 Petrus 5:14). Lalu bagaimana dengan orang-orang di
luar Kristus? Yesaya menegaskan: "Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik! firman TUHAN"
(Yesaya 48:22). Alasannya jelas, yaitu karena damai sejahtera Allah
selalu diarahkan kepada kehidupan yang penuh dedikasi kepada Kristus,
sebagaimana yang diinginkan oleh Roh Kudus: "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera" (Roma 8:6). Kita sering mendengar ayat yang terkenal ini: "Sebab
Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai
kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan
bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang
penuh dengan harapan" (Yeremia 29:11). Kepada siapa firman ini berbicara? Ya, hanya bagi umat-Nya, anda dan saya.
Terakhir, damai
sejahtera yang sejati hanya dapat tercapai melalui Injil. Karena Injil
berbicara tentang kehidupan Yesus Kristus yang adalah manifestasi SHALOM
yang sejati, maka sia-sialah manusia yang mencari damai sejahtera di
luar Injil. Damai sejahtera yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam
Injil Kerajaan, karena itulah Injil Kerajaan disebut juga INJIL SHALOM: "Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan INJIL SHALOM"
(Efesus 6:15). Injil Kerajaan tidak berisi perkara-perkara fana
menyangkut materi dan ketentraman duniawi, makanan dan minuman,
melainkan soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
(Roma 14:17).
Tugas kita adalah menyatakan buah Roh yang
ditanam-Nya dalam diri kita, salah satunya adalah damai sejahtera
(Galatia 5:22). Tuhan Yesus menyatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"
(MAtius 5:9). Bagi kitalah kalimat itu ditujukan, yaitu orang-orang
yang memanifestasikan damai sejahtera Allah di dalam segala aspek
kehidupan.
Sekarang, bila Anda mengucapkan kata SHALOM
kepada siapa saja, jangan biarkan itu menjadi sekedar kata sapaan yang
keluar begitu saja, melainkan ingatlah selalu akan maknanya yang begitu
dalam, yang akan mengarahkan Anda dan saya kepada satu Pribadi, yaitu
Kristus. Renungkanlah SHALOM yang diberikan-Nya kepada kita:
memperdamaikan kita dengan Bapa-Nya, tiap tetesan darah-Nya adalah bukti
nyata, betapa Ia rindu memberikan kepada kita apa yang tidak dapat
diberikan dunia ini, supaya kita yang dibela oleh-Nya, dapat menikmati
hidup di dunia ini sebagai orang-orang yang mengenal Dia, meresponi
kematian-Nya dengan sebuah pengakuan, mengasihi Dia, dan memiliki
hubungan yang intim dengan-Nya.
Tiga setengah tahun di bumi, Tuhan Yesus
terus-memerus memberitakan Injil SHALOM, mengajar tentang SHALOM,
mengusir setan yang telah mencuri SHALOM Allah atas manusia, dan
menyembuhkan orang-orang dari sakit-penyakit sebagai salah satu wujud
SHALOM itu. Kini sudah dua ribu tahun lebih, kerinduan Yesus tetap sama,
yaitu supaya SHALOM, damai sejahtera yang sejati itu, dapat dinikmati
oleh manusia yang dikasihi-Nya. Maukah Anda meresponi kerinduan Tuhan?
(Sumber: Internet)
(Renungan "Bethany" Desember 2007)
|
|
Monday, 30 July 2012
Shalom :)
Subscribe to:
Comments (Atom)